Sabtu, 03 September 2016

Perkenalkan nama saya Ari Pianto saya seorang anak kampung yang lahir dan besar di Salatiga sebuah kota kecil yang bahkan tidak punya mall. Salatiga juga disebut sebagi kota transit karena bagi para pengendara, Salatiga tak lebih dari sekedar tempat melepas lelah untuk sejurus kemudian melanjutkan perjalanan. Namun, kota inilah yang membuat saya jatuh cinta. Sebuah kota yang cantik yang membuat saya selalu rindu ketika meninggalkannya, perasaan yang sejatinya saya tidak punyai ketika muda. Dulu saya ingin sekali segera menyelesaikan studi supaya cepat-cepat bisa meninggalkan kota ini. Saya selalu bilang "saya sudah lahir disini dan besar disini masak mau mati disini?". Iming2 hidup di kota besar dengan segala daya tariknya selalu menarik minat saya.
Akhirnya benar seusai kuliah saya mencoba melamar pekerjaan kebeberapa perusahaan di kota lain karena disalatiga pilihan karirnya terbatas. Anda bisa menjadi PNS atau abdi negara lainnya, namun tentu saja dengan resiko jalan yang berliku dan proses yang penuh kerahasiaan, atau kerja di institusi pembiayaan yang tentu saja tidak menarik buat saya. Singkat cerita, saya diterima di sebuah perusahaan rokok yg cukup besar dan ditempatkan di Yogyakarta kota dimana saya menghabiskan 3,5 tahun sebelum akhirnya darah muda saya mengalahkan logika dan mendorong saya jauh melintasi   3 provinsi untuk kemudian terdampar di Jakarta ibukota dari semua hal di negeri ini. Bak rangkaian komputer Jakarta adalah prosesornya, pusat kendali dari segala sesuatu. Keluarbiasaan Jakarta menarik ribuan kalo tidak jutaan pemuda terdidik setiap tahunya. Jakarta memilih putera-putera terbaik dari daerah untuk menghamba padanya.
Harus saya akui Jakarta adalah tempat yang baik untuk mendidik mental dan watak seseorang. Ungkapan "ibukota lebih kejam daripada ibu tiri" memang klasik namun ta tergantikan, mungkin satu-satunya yang bisa mengalahkan kekejaman Jakarta hanyalah tarif internet di negeri ini (hahaha). Namun Jakarta juga menghargai kemampuan seseorang. Di Jakarta saya melihat banyak orang hebat, orang -orang cerdas yang mampu mendaki tangga kesuksesan. Jakarta memberi kesempatan yang sama untuk semua orang, mereka yang bermental baja dan berkemauan keras pasti mendapatkan sesuatu dari kota ini. Jakarta melahirkan spesies baru yang disebut "THE JAKARTANS". Spesies ini mampu menghadapi segala cuaca, mampu hidup dalam situasi apapun bahkan saya selalu bercanda siapapung yang bisa bertahan hidup di Jakarta pasti bisa hidup dimanapun.
Tapi mungkin saya bukan termasuk spesies ini, karena setelah 2 tahun hidup di Jakarta saya menyerah. Saya mengemasi barang-barang saya dan menaiki kereta malam untuk kembali ke Jogja. Tetapi bukan dendam karena Jakarta menendang saya, juga bukan karena keistimewaan Jogja yang menarik saya kembali, karean akhirnya setelah 1,5tahum saya kembali lagi ke Salatiga, Kota yang saya selingkuhi karena menurut saya tidak terlalu cantik.
Dengan sadar saya harus menelan harga diri saya karena saya "CLBK" ibarat pemuda yang merengek-rengek meminta kembali kepada pacar lamanya. Karena ternyata kesederhanaan pacar lamanya itulah yang selama ini dicari.



3 September 2016